Di tengah dominasi kedelai impor yang selama bertahun-tahun menjadi bahan baku utama industri tempe nasional, hadir sebuah startup pangan asal Yogyakarta yang berupaya mengubah paradigma tersebut. Attempe, yang didirikan oleh Nurhayati Nirmalasari atau akrab disapa Nungki, merupakan startup berbasis pangan sehat yang mengusung misi mengangkat martabat kedelai lokal Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dalam negeri. Berbekal latar belakang sebagai alumnus Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Nungki memulai perjalanan Attempe pada tahun 2015 dengan keyakinan bahwa kedelai lokal memiliki kualitas yang tidak kalah dibandingkan kedelai impor.
Nama Attempe lahir dari semangat menghadirkan tempe sehat berbahan baku kedelai lokal non-GMO (Non Genetically Modified Organism). Di saat sebagian besar kebutuhan kedelai nasional masih bergantung pada impor, Attempe memilih menggunakan varietas kedelai lokal seperti Grobogan, Anjasmoro, dan Biosoy yang diperoleh dari petani di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan daerah sekitarnya. Pilihan ini bukan hanya didasarkan pada kualitas rasa yang lebih gurih dan alami, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap kemandirian pangan nasional dan keberlanjutan pertanian lokal.

Pada awal perjalanannya, Attempe hanya memproduksi tempe segar dalam skala kecil melalui sistem kemitraan dengan produsen tempe di Bantul. Namun, seiring meningkatnya permintaan pasar, pada tahun 2017 Attempe berhasil membangun fasilitas produksi sendiri dan terus mengembangkan kapasitas usahanya. Saat ini, Attempe tidak hanya memproduksi tempe segar, tetapi juga menghadirkan berbagai produk inovatif seperti tempe instan, keripik tempe aneka rasa, sambal abon tempe, cookies tempe, brownies tempe, hingga produk tempe kaleng yang menjadi salah satu unggulan ekspor perusahaan.
Keunggulan Attempe tidak hanya terletak pada produk yang sehat dan berkualitas, tetapi juga pada komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan. Perusahaan menerapkan konsep zero waste dengan memanfaatkan limbah produksi menjadi pupuk organik bagi petani kedelai. Selain itu, limbah kulit kedelai dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara air limbah produksi disalurkan untuk kebutuhan peternakan. Pendekatan ini menjadikan Attempe sebagai contoh startup pangan yang mengintegrasikan inovasi bisnis dengan prinsip ekonomi sirkular dan keberlanjutan lingkungan.
Tahun 2024 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Attempe. Attempe mendapat pendanaan dan pendampingan pengembangan usaha oleh UGM melalui Program PRIMESTeP dan masuk menjadi Startup binaan Innovative Academy UGM.
Melalui pendanaan dan pendampingan tersebut, Attempe bisa mengikuti TEI 2025 yang merupakan pameran dagang terbesar di Indonesia. Dari TEI kemudian Attempe berhasil menambah beberapa reseller export yang sudah rutin menjual produk Attempe ke kancah internasional yaitu Saudi, Singapore, dan Turki. Tahun 2025 juga Attempe berhasil mengekspor sebanyak 10.000 unit tempe kaleng ke London, Inggris. Pengiriman tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan produk pangan berbasis kedelai lokal Indonesia ke pasar internasional. Keberhasilan ekspor ini menunjukkan bahwa produk olahan tempe Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global, terutama di tengah meningkatnya tren konsumsi pangan sehat dan berbasis nabati.

Kesuksesan tersebut juga tidak lepas dari partisipasi Attempe dalam pameran BRI UMKM EXPO atau BUE yang menjadi ajang pertemuan antara pelaku UMKM Indonesia dengan calon pembeli dari berbagai negara. Melalui proses kurasi yang dilakukan oleh BRI, Attempe memperoleh kesempatan mengikuti business matching dengan sejumlah buyer internasional. Dari kegiatan tersebut, perusahaan berhasil mendapatkan calon pembeli baru dan saat ini sedang menjalani proses pengiriman sampel produk untuk penjajakan kerja sama ekspor berikutnya.
Ke depan, Attempe berencana melanjutkan ekspor ke London secara rutin setiap enam bulan sekali sambil mengevaluasi hasil pengiriman perdana dan memperluas jaringan pasar internasional. Perusahaan juga terus melakukan pendampingan kepada petani mitra untuk memastikan ketersediaan bahan baku berkualitas tinggi dan berkelanjutan. Tingginya animo pasar luar negeri memberikan rasa optimis dan semangat bahwa Attempe bisa menjadi besar. Harapannya adalah akan ada investor yang berkenan mendampingi dan membantu Attempe mencapai potensi terbaik dan berdampak.

Kisah Attempe menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus lahir dari teknologi digital. Dengan mengolah warisan kuliner Indonesia menjadi produk modern yang sehat, berkelanjutan, dan berdaya saing global, Attempe berhasil membuktikan bahwa tempe bukan sekadar makanan tradisional, melainkan juga simbol kemandirian pangan dan potensi ekonomi Indonesia di pasar dunia. Melalui semangat memberdayakan petani lokal dan menghadirkan produk berkualitas tinggi, Attempe menjadi inspirasi bagi startup agrifood Indonesia untuk terus berkembang dan membawa produk lokal menuju panggung internasional.
Penulis: Danny
Editor: STP UGM