Yogyakarta – Science Techno Park (STP) Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan perannya sebagai penghubung antara ekosistem inovasi perguruan tinggi dengan dunia industri melalui penyelenggaraan Forum Pertemuan Komunitas Bisnis Jepang, BKPM, JETRO, JICA, dan STP UGM yang berlangsung di Ruang Sidang 2, Gedung Pusat Balairung UGM, pada Kamis (25/6). Forum ini dihadiri oleh 18 peserta secara langsung serta perwakilan dari 13 perusahaan Jepang yang mengikuti secara hybrid.
Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk mempererat hubungan kerja sama Indonesia–Jepang, khususnya dalam mendorong hilirisasi hasil riset, pengembangan startup berbasis teknologi, serta membuka peluang investasi pada sektor-sektor prioritas nasional. Fokus utama forum kali ini adalah sektor healthcare, sejalan dengan meningkatnya minat perusahaan Jepang untuk berinvestasi dan berkolaborasi dalam pengembangan teknologi kesehatan di Indonesia.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan apresiasi kepada delegasi Jepang atas inisiasi kunjungan strategis tersebut. Menurutnya, hubungan kerja sama antara UGM dan berbagai institusi di Jepang telah terjalin selama bertahun-tahun, baik melalui perguruan tinggi, dunia industri, maupun lembaga seperti JICA dan JETRO.

Ia juga menegaskan bahwa UGM memiliki ekosistem inovasi kesehatan yang semakin matang. Melalui Rumah Sakit Akademik UGM yang saat ini memiliki kapasitas 400 tempat tidur dan rencana pengembangan hingga 600 tempat tidur, UGM mampu mengembangkan sekaligus menguji berbagai inovasi kesehatan secara langsung. Selain itu, UGM juga memiliki kekuatan pada sektor ketahanan pangan dan energi yang siap dikembangkan melalui kolaborasi internasional.
Dalam sesi pemaparan, Kepala Subdirektorat Science Techno Park UGM, Dr.rer.nat. Ronny Martien, M.Si., menjelaskan bahwa STP UGM berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan hasil riset akademik dengan kebutuhan industri. Melalui proses inkubasi dan seleksi yang ketat, STP UGM membina berbagai startup berbasis teknologi agar siap memasuki pasar dan berkolaborasi dengan mitra industri.
Di bidang kesehatan, STP UGM telah menghasilkan berbagai inovasi, mulai dari alat kesehatan elektromedis dan non-elektromedis, produk herbal, digitalisasi rekam medis berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga sistem perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui Intellectual Property Management Office (IPMO). Seluruh ekosistem tersebut dirancang untuk mempercepat proses hilirisasi inovasi menuju komersialisasi.
Forum ini juga menjadi ajang perkenalan berbagai perusahaan Jepang yang memiliki minat besar terhadap pengembangan sektor kesehatan di Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari beragam bidang, mulai dari manufaktur, konstruksi, perbankan, konsultasi, pelayanan kesehatan lansia, hingga pengembangan kawasan industri. Sebagian besar perusahaan menyampaikan ketertarikan untuk menjalin kerja sama riset, investasi startup, transfer teknologi, pengembangan fasilitas kesehatan, pembiayaan inovasi, hingga perluasan pasar produk hasil riset UGM.
Sebagai bagian dari sesi business matching, STP UGM memperkenalkan sejumlah startup dan produk inovatif binaannya. Salah satunya adalah Swayasa Prakarsa, tenant STP UGM yang mengembangkan alat kesehatan, produk herbal, dan pangan fungsional berbasis hasil riset UGM. Startup ini menawarkan peluang kolaborasi berupa distribusi regional, co-marketing, hingga pengembangan produk bersama untuk pasar Indonesia, ASEAN, dan Jepang.
Selain itu, startup Kemedis memperkenalkan sistem AI-Powered Electronic Medical Record yang mendukung digitalisasi layanan kesehatan, sedangkan tim inovator UGM juga mempresentasikan teknologi Rapid Assessment Diabetic Retinopathy sebagai solusi deteksi dini gangguan retina akibat diabetes. Berbagai inovasi tersebut menunjukkan kesiapan UGM dalam menghadirkan teknologi yang memiliki potensi implementasi luas di sektor kesehatan.
Pada sesi diskusi, delegasi Jepang menunjukkan antusiasme terhadap mekanisme kerja sama dengan STP UGM, termasuk proses inkubasi startup, pengelolaan lisensi melalui IPMO, serta tahapan penyusunan kerja sama yang dimulai dari penyampaian minat, penawaran resmi, hingga penyusunan Memorandum of Understanding (MoU).
Sebagai tindak lanjut, forum merekomendasikan penyempurnaan katalog produk dan peluang kolaborasi agar informasi mengenai kebutuhan industri, tantangan, serta potensi kerja sama dapat tersampaikan secara lebih komprehensif. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses matchmaking antara startup binaan STP UGM dengan perusahaan-perusahaan Jepang yang memiliki minat investasi maupun kolaborasi riset.

Melalui forum ini, STP UGM kembali menegaskan komitmennya sebagai katalisator inovasi yang mempertemukan akademisi, startup, industri, dan investor global. Sinergi bersama JICA, JETRO, BKPM, serta komunitas bisnis Jepang diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya kolaborasi strategis yang mampu mempercepat hilirisasi hasil riset, meningkatkan daya saing startup teknologi Indonesia, serta memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ekosistem inovasi nasional dan pembangunan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.
Penulis: Danny
Editor: STP UGM