Di tengah pesatnya perkembangan ekosistem startup dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia, sektor pangan fungsional berkelanjutan kian menjadi perhatian besar. Salah satu cerita inspiratif datang dari bumi Yogyakarta, melalui sebuah lini usaha bernama KhumKhum. Didirikan di bawah naungan CV Khaira Buana Mas, KhumKhum bertransformasi dari sekadar produsen camilan keripik jamur menjadi pelopor usaha jamur terintegrasi dengan prinsip circular economy (ekonomi sirkular) yang kuat. Di balik kesuksesan merek yang kian dikenal luas ini, terdapat visi besar dari pendirinya, Hanum Wahyu Wibisono, seorang pemuda yang membawa nilai sosial untuk menggerakkan perekonomian masyarakat dari akar rumput.
Awal Mula dan Latar Belakang Pendiri
Perjalanan KhumKhum tidak dimulai dari modal yang serba mewah, melainkan dari tekad baja seorang Hanum Wahyu Wibisono. Tumbuh dalam keluarga yang sederhana—dengan orang tua yang bekerja sebagai penjual koran dan pengemudi ojek online—Hanum tidak membiarkan keterbatasan ekonomi membatasi langkahnya. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi di jurusan Teknik Pertanian dari sebuah institut terkemuka di Yogyakarta melalui jalur beasiswa.
Latar belakang akademis di bidang pertanian ini memberikan Hanum perspektif mendalam mengenai potensi besar komoditas lokal, sekaligus tantangan limbah yang kerap diabaikan oleh para pelaku industri konvensional. Ketika pandemi melanda pada April 2020, momentum tersebut justru dimanfaatkan Hanum untuk merintis KhumKhum. Dari awalnya hanya mengolah tudung jamur tiram menjadi keripik renyah, ia menyadari bahwa tantangan terbesar para petani adalah kestabilan serapan hasil panen serta menumpuknya limbah tangkai jamur yang tidak terpakai oleh produsen keripik jamur pada umumnya.
Model Bisnis Ekonomi Sirkular (Circular Economy)
Hal paling membedakan KhumKhum dari produsen camilan konvensional adalah komitmennya dalam menerapkan ekonomi sirkular yang terintegrasi secara hulu hingga ke hilir. Model bisnis yang dirancang oleh CV Khaira Buana Mas ini berhasil menjawab tantangan lingkungan sekaligus menciptakan efisiensi sumber daya secara luar biasa.
Dalam operasional produksinya, jamur tiram segar yang diserap dari petani dibagi menjadi beberapa elemen penting. Bagian tudung jamur (80%) diolah secara optimal menjadi Keripik Jamur Crispy KhumKhum. Keripik ini dibuat dengan standar tinggi: bebas dari bahan pengawet dan MSG, menjadikannya pilihan camilan sehat yang sangat digemari konsumen perkotaan.
Sementara itu, sisa tangkai jamur (20%) yang biasanya dibuang dan berpotensi membusuk hingga menghasilkan pencemaran lingkungan, diolah kembali melalui proses riset dan pengembangan (R&D) menjadi produk baru yang bernilai ekonomis tinggi. KhumKhum memanfaatkan limbah tangkai jamur ini menjadi bahan baku tepung untuk pembuatan Mie Kremes “ZatZet” dan produk mie instan sehat bernama “Vitagamee”. Inovasi ini menyasar tren global berupa melonjaknya permintaan pangan fungsional bebas gluten (gluten-free) dan ramah kelompok vegan.
Dampak sirkular tidak berhenti di situ. Media tanam jamur yang sudah tidak produktif atau baglog afkir—yang jumlahnya bisa mencapai 40% dari total media tanam—tidak dibuang begitu saja. Lini usaha ini mengintegrasikannya dengan bermitra bersama para petani cacing lokal. Baglog afkir tersebut dijadikan sebagai media pakan berkualitas tinggi untuk budidaya cacing tanah, yang hasil panen cacingnya kemudian diserap oleh industri farmasi. Melalui model ini, KhumKhum benar-benar mewujudkan konsep ekosistem bisnis tanpa limbah (zero waste).
Pilar Kepemimpinan dan Struktur Tim Internal
Kesuksesan KhumKhum dalam mengeksekusi model bisnis yang kompleks ini didukung penuh oleh manajemen internal yang solid, profesional, serta diperkuat oleh fondasi akademik dan jejaring inkubasi yang kuat. Di jajaran direksi, Hanum Wahyu Wibisono bertindak sebagai Direktur dan CEO yang memimpin arah strategis serta inovasi bisnis. Dalam menakhodai startup ini, ia didampingi oleh tiga srikandi ahli di bidangnya masing-masing yang seluruhnya merupakan talenta alumni dan sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM), baik dari rumpun Sekolah Vokasi maupun program magister MM UGM. Tim inti tersebut terdiri dari Endang Susylowati selaku CTO (Chief Technology Officer) yang memimpin lini inovasi produk, Najihatul Mujahidah sebagai CMO (Chief Marketing Officer) yang merancang strategi pemasaran dan kemitraan, serta Fatma Nurul Hida selaku CPO (Chief Product Officer) yang bertanggung jawab penuh atas pengembangan produk berkualitas.Kombinasi kompetensi riset dan keahlian lintas disiplin dari kampus kerakyatan ini kemudian diakselerasi secara intensif melalui program binaan Direktorat Pengembangan Usaha UGM melalui Innovative Academy. Inkubasi strategis ini memberikan modal pengetahuan mendalam bagi tim KhumKhum dalam melakukan validasi pasar, penyusunan rencana aksi, hingga transformasi dari skala laboratorium riset menjadi sebuah bisnis sosial yang terstruktur dan siap bersaing di pasar modern.
Menariknya, struktur tim operasional KhumKhum mencerminkan keberpihakan sosial yang inklusif. Sebanyak 70% dari tim pendukung di rumah produksi adalah perempuan lokal, dan 20% di antaranya melibatkan komunitas pekerja lepas (freelance) yang inklusif. Hal ini sejalan dengan komitmen startup dalam mendukung agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), utamanya terkait kesetaraan gender, pengentasan kemiskinan, penyediaan pekerjaan layak, dan pertumbuhan ekonomi.
Ekspansi Pasar, Traksi, dan Strategi Pemasaran
Sejak berdiri pada tahun 2020, KhumKhum mencatatkan pertumbuhan bisnis yang sangat menjanjikan. Dengan kapasitas produksi yang terus meningkat, jaringan distribusinya kini telah menjangkau lebih dari 1.500 titik distribusi fisik yang tersebar di berbagai wilayah. Saluran penjualan offline mendominasi sebesar 80%, di mana retail modern seperti Indomaret, Transmart, Sarinah, hingga Alfamart menjadi mitra strategis utama. Selain pasar domestik, kualitas ekspor produk KhumKhum terbukti lewat keberhasilan mereka menembus pasar luar negeri melalui buyer reguler di Australia dan Hong Kong.
Menanggapi pencapaian dan arah taktis ini, Hanum Wahyu Wibisono menyatakan, “Kami secara konsisten mengoptimalkan integrasi antara kanal retail modern offline dan ekosistem digital guna memastikan produk pangan sehat berbasis ekonomi sirkular ini dapat diakses secara masif, baik oleh masyarakat urban domestik maupun pasar internasional.”
Dari sisi penetrasi produk baru seperti mie instan jamur bebas gluten “Vitagamee”, KhumKhum menerapkan kombinasi strategi pemasaran Push dan Pull yang memanfaatkan model corong pemasaran digital (Funnel Marketing) serta kerangka AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share). Promosi gencar dilakukan baik melalui media sosial organik, optimasi SEO, WhatsApp Marketing, pameran pangan sehat nasional, hingga program kemitraan afiliasi di TikTok dan Shopee.
Strategi Kolaborasi Pentahelix
Upaya keras Hanum dan timnya tidak sia-sia. Atas kontribusinya dalam memberdayakan 13 mitra petani jamur tiram lokal di Kulon Progo dan mengedepankan kelestarian lingkungan, Hanum dinobatkan sebagai Social Innovator of DI Yogyakarta pada tahun 2023. Lompatan besar KhumKhum dalam membangun ekosistem bisnis ini tidak lepas dari implementasi kolaborasi pentahelix yang sangat kuat. Sebagai startup yang lahir dari rahim akademis, KhumKhum mendapatkan pengawalan intensif dan binaan langsung dari Direktorat Pengembangan Usaha UGM melalui Innovative Academy.
Denny Wijayanto, S.E. selaku Program Manager Innovative Academy UGM menyatakan, “Innovative Academy terus berkomitmen memperkuat jaringan inkubator bisnis untuk melahirkan sekaligus mengawal para wirausaha muda inovatif agar produk riset mereka tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga kompetitif dan membawa dampak sosial-ekonomi riil di masyarakat.”
Melalui ekosistem terarah tersebut, KhumKhum tidak hanya mendapatkan bimbingan komersialisasi produk riset, tetapi juga dijembatani untuk bersinergi dengan berbagai lembaga makro terkemuka. Dukungan ini mengalir mulai dari pendanaan eksternal dan kemitraan strategis dengan Kementerian PPN/Bappenas serta Asian Development Bank (ADB), validasi ilmiah dari BRIN, fasilitas perluasan pasar dari Bank Indonesia, hingga program inkubasi berkelanjutan dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) serta Kementerian Koperasi dan UKM.
Roadmap Masa Depan dan Target Luaran Akselerasi
Menatap masa depan, KhumKhum bersama Direktorat Pengembangan Usaha UGM telah merumuskan roadmap bisnis jangka panjang yang ambisius dan terukur. Di bawah pemantauan program akselerasi Innovative Academy, target jangka pendek diarahkan pada penuntasan Action Plan yang ketat. Setelah fokus pada riset desain dan uji pasar purwarupa mie instan sehat berbasis tepung tangkai jamur pada tahun 2025, fokus bergeser pada pengurusan legalitas industri yang krusial. Innovative Academy UGM mengawal ketat target luaran berupa hasil uji laboratorium (cakupan AKG Nutrisi, umur simpan, dan klaim bebas gluten), pengurusan HKI Merek, hingga pemenuhan sertifikasi halal dan izin edar resmi dari BPOM untuk produk “Vitagamee”.

Pada periode 2026, KhumKhum menargetkan peluncuran resmi produk secara massal dengan menggandeng minimal 10 mitra reseller atau distributor awal. Langkah ini akan diikuti oleh fase efisiensi dan ekspansi masif pada rentang 2027 hingga 2029. Target jangka panjangnya meliputi penambahan hingga 200 mitra distributor baru secara nasional, pembangunan dome pengeringan tangkai jamur terstandardisasi, pemenuhan baglog budidaya mandiri, hingga pembentukan 20 kelompok mitra pilot project untuk pengelolaan limbah baglog afkir menjadi saluran distribusi cacing farmasi yang produktif.
KhumKhum menjadi bukti nyata bagaimana sinergi antara talenta muda UGM dan inkubasi terarah dari Direktorat Pengembangan Usaha melalui Innovative Academy mampu melahirkan inovasi kuliner lokal yang kompetitif. Sebuah pembuktian bahwa bisnis modern tidak hanya bisa mengejar keuntungan finansial, melainkan mampu menumbuhkan dampak kesejahteraan yang berkelanjutan langsung dari akar rumput.
Penulis : Danny Wibisana
Editor : STP UGM
Foto : Dok IA – STP UGM